Wednesday, January 02, 2013

The Flower Garden (Next Story)


Kawan, masih ingatkah dengan bunga yang kurawat lalu?

Yap, bunga yang begitu cantik, manis, rupawan, dan paling indah diantara bunga-bunga lainnya. Tapi sayang, bunga itu bukanlah milikku.

Aku menemukannya berserakan tak terawat di hutan. Sepertinya bunga yang indah ini telah dibuang oleh pemiliknya. Pemilik yang sungguh tak bersyukur bahwa dia telah memiliki bunga yang amat elok nan cantik.

Baiklah, daripada ia mati, sebaiknya kuselamatkan dan kurawat. Semoga dapat tumbuh indah dan bersemi di kemudian harinya.

Hari berganti hari, pekan berganti pekan, terus aku rawat bunga yang manis ini. Kusirami tiap hari, kuberi pupuk yang terbaik dengan cukup, kubersihkan dari hama-hama dan penyakit lainnya, serta selalu kudoakan demi keselamatan bungaku yang special ini. Agar ia mampu tumbuh sempurna sesuai harapanku. Amiin...

Tak berapa lama, kuncupnya bermekaran. Warna-warni dan begitu semerbak aroma wanginya. Cantik sekali. Tiap orang yang melihat bungaku ini pasti cemburu, mereka ingin juga memiliki bunga yang special seperti yang kupunya. Sungguh anggunnya bungaku yang satu ini, selalu membuatku tersenyum tiap kali kumenatapnya. Betapa bersyukurnya aku kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah menganugerahiku varietas terbaik dari ras bunga ini. Alhamdulillah...

Waktu berjalan, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Selalu kuberikan nutrisi terbaik untuk bungaku yang satu ini. Suatu hari persediaan pupuk terbaikku sudah mulai menipis. Aku harus mencari pupuk terbaik ke seantero negeri karena memang bahannya campuran dari unsur-unsur terbaik dari seluruh penjuru mata angin. Wahai bunga manisku, maafkan aku. Mungkin dalam beberapa waktu kedepan aku akan meninggalkanmu sejenak tuk mendapatkan pupuk terbaik. Tentu supaya perkembanganmu sempurna tanpa cacat. Aku harap engkau sabar menanti kepergianku ini.

Pekan berganti pekan, kutelusuri seluruh pelosok daerah tuk mendapatkan bahan pupuk terbaik itu. Dari sebuah pulau terpencil, hingga puncak gunung berapi, dari padang rumput, hingga semak belukar. Semuanya kuarungi demi menemukan komposisi yang tepat pupuk terbaik untuk bunga specialku. Tak mau sedikitpun kukurangi komposisinya agar kondisi pupuknya selalu terbaik. Dan akhirnya akupun kembali.

Kawan, malang tak mampu kuhindari. Bunga yang kutinggalkan ternyata berubah menjadi ganas. Ia tumbuh menjalar kemana-mana dengan durinya yang tajam lagi beracun. Tak hanya itu saja. Bunga yang tadinya cantik, elok, rupawan, kini menjadi bunga pemakan daging dan liar. Sungguh mengerikan kawan...

Berkali-kali aku mencoba mendekatinya, namun ia selalu berusaha menerkamku. Selain itu, dengan racunnya ia menginfeksi tanaman-tanaman lain disekitarku, tak ayal semua menyerangku. Aku hanya mampu menghindar. Namun, dalam hati kecilku rasanya ingin sekali memulihkan bunga specialku itu. Tapi apalah daya, seberapa keras aku mencoba, sekuat itulah serangan yang ia lancarkan kepadaku. Sungguh sulit kawan, apalagi ditambah tanaman lain yang juga siap menghabisiku...

Aku mundur sejenak. Terdiam dan merenung dalam kesedihan. Mengapa bunga special yang selalu kurawat menjadi begini? Padahal hanya kutinggal sebentar tuk mencari pupuknya.

Nasi sudah menjadi bubur. Bungaku yang cantik, elok dan rupawan kini hanya kenangan saja. Semuanya terkubur halus bersama mimpi-mimpiku. Kini semuanya telah sirna. Aku kembali merantau. Entah apa kan kutemukan bunga yang jauh lebih special lagi atau tidak...